Lajer vs Margoagung

21.40


Saya menulis ini di tengah-tengah persiapan tes POTK. Yahh mumpung sedang mood nulis di setop dulu nggak apa-apa kan ya belajarnya. Besok Rabu, 22 Februari 2013 adalah tes POTK saya yang ke-6. Iya , ke enam. Semester kemarin saya yang hanya bermodalkan bismillah mencoba peruntungan *ceile* di dunia per-POTK-an. Sayangnya sampai tes ke lima saya belum lulus. Mungkin Allah tau kalo saya memang belum siap kalau harus mengambil POTK semester kemarin J. Jadilah semester sekarang saya harus kembali belajar sejumlah soal yang sudah keriting abstrak dan tak berbentuk itu.

Oke, lupakan sejenak soal POTK. Jadi ceritanya hari ini saya survey KKN di Desa Margoagung kecamatan Seyegan. Awalnya sih saya maju mundur mau jadi tim inti. Tapi motivasi terbesar saya adalah katanya cowok Margoagung ganteng-ganteng Pak Lurahnya, tidak boleh ada kegiatan KKN dari H-4 sampai H+7 lebaran. Salah satu peraturan KKN dari LPPM : “Mahasiswa berlebaran bersama masyarakat di lokasi KKN.” Nah kejam banget ya LPPM? Sekalian aja :”Mahasiswa meminta sangu dan baju lebaran pada pemilik rumah.” -___- . Wong pembantu, TKI, TKW, aja pada pulang masa kita nggak boleh pulaaang, yang bikin peraturan aja juga pasti pulang!

Kita bertujuh (Saya, Kinan, Rinda, Aksa, Awang, Fery, Pandu) capcus ke rumahnya Pak Edi (Pak Lurahnya). Ini pertama kali saya kesana, kedua atau ketiga kali bagi mereka. Kesan pertama tentang Margoagung : kumis Pak Lurahnya kaya Pak Raden >>> salah fokus. Kalau saya liat sih, panjang Desa Margoagung tidak lebih panjang dari Desa saya tercinta, Lajer Y. Tapi begitu blusukan baru keliatan kalau Desa ini cukup luas, penduduknya juga banyak. Secara geografi, hampir sama lah keadaan Margoagung-Lajer. Tapi Lajer sawahnya luebih luaaas, Desa saya kan terkenal dengan sawahnya yang luas-luas. Sering saya kenalan sama orang, waktu saya bilang rumah saya di Lajer orangnya langsung bilang : “Wah, sugih ya sawahe amba” (Wah, orang kaya ya, sawahnya luas). Padahal Bapak saya nggak punya sawah, yang punya sawah banyak itu mbah saya :D. Lajer-Margoagung sama-sama tertinggal dalam pendidikan, banyak yang putus sekolah karena masalah biaya dan kurangnya motivasi belajar. Masalah kesehatan juga kurang lebih sama lah.

Waktu kami ngobrol sama Bapak/Ibu Kadus, barulah kelihatan bedanya. Margoagung masyarakatnya lebih majemuk. Meskipun mayoritas bekerja di sektor pertanian –yang kebanyakan jadi buruh tani ̶ , tapi sudah banyak yang berprofesi sebagai pengrajin (tahu, bambu, emping, dll). Kalau di Lajer, seeemua kalau nggak petani ya PNS. Kalau ada yang berdagang/ beternak, itu cuma pekerjaan sampingan, teteeep utamanya jadi petani. Di Margoagung, sudah banyak kelompok-kelompok untuk menunjang profesi mereka. Kelompok tani, kelompok ternak, kelompok pengrajin tahu-bambu-tempe, kelompok peternak. Jadi semua terorganisir jauuh lebih baik. Untuk ternak dan perikanan di sediakan lahan tersendiri, jadi nggak ada deh kisah sedih di Hari Minggu memilukan waktu musim penghujan karena kotoran ternak jadi mengalir kemana-mana, seperti di Desa saya T.T .

Di Margoagung juga sering mendapat bantuan dan penyuluhan-penyuluhan.

“Kemarin kita baru dapat dana 15 juta buat blablabla.”
“Pernah dapet 200 juta buat ini.”
”Kita juga ikut pelatihan ini di sono.”
“Tahun 2013 Desa ini jadi proyek percontohan anu.” Waah keren ya? Nggak tau karena saya nya yang nggak update info tentang Desa saya sendiri atau memang sayanya yang kuper-e naujubilah, saya jarang denger hal semacam itu di desa saya.

Dari semua Kadus yang kami datangi saya juga dapet info: Semua paguyuban di Margoagung aktif berkegiatan. Sebut saja Mawar Karang Taruna, Posyandu Lansia, PKK, Dasa Wisma. Semuanya aktif. Kalau di Desa saya? Ahh boro-boro. Juaraang banget ada rapat RT/RW. Adanya paling rapat Desa, itupun kalau mau ada lelang sawah :D. PKK sih jalan, tapi nggak seaktif Margoagung. Palingan cuma arisan tiap bulan, itupun banyak yang cuma nitip duitnya thok tapi mbuh orangnya kemana. Posyandu Lansia? Wahh embuh opo kui. Kalau di tempat saya : ya udah sih orang tua di rumah aja nggak usah sing-sing kelayaban. Karang Taruna? Waah apa maning kue! Seumur hidup saya belum pernah sekalipun ikut acara rapat Karang Taruna. Saya malah nggak pernah denger sesuatu yang berhubungan dengan Karang Taruna, ketuanya lah, orang-orangnya lah, karena memang sama sekali tidak pernah ada acara Karang Taruna. Pernah sih sekali saya dapet undangan rapat Karang Taruna, tapi waktu itu saya sudah kuliah jadi nggak bisa ikut rapat. Beneran deh saya iriiii....

Meskipun secara geografis Lajer-Margoagung hampir sama, Margoagung jauuuuuh di depan Lajer. Berharap banget Lajer bisa sedikit lebih aktif kegiatannya. Berharap ada KKN di Desa Lajer, jadi paling tidak masyarakatnya lebih terbuka pada dunia luar. Biar masyarakatnya bisa tau kalau mereka –dan saya ̶ jauh tertinggal. Kalau soal potensi yah memang susah sih, karena satu-satunya potensi luar biasa Lajer itu : Sawahnya yang luas. Ada juga beberapa tempat penggilingan padi di Lajer. Saya lihat limbahnya (merang, atau apapun itulah namanya) belum dimanfaatkan. Padahal bisa kan ya diolah lebih lanjut jadi minyak. Kalau nggak ya bisa diperbaiki dulu lah kultur masyarakatnya. Ya Allah tolong bantu kami Ya Allah, kirim orang-orang untuk membantu kami *nyadong*. Pertanyaannya : Loh kenapa nggak kamu aja Ky yang bikin program KKN di Desamu? . Jawaban : “Saya bukan orang yang tepat untuk melakukan itu hehehe “ .

You Might Also Like

0 komentar

Mengenai Saya

Foto saya
Hai. Terimakasih atas kunjungannya.

Entri Populer

Pengikut

Part of

Blogger Perempuan